Oleh: lembagadakwahtaruna | 11 Desember 2008

Pesantren Taruna Al-Qur’an

43350337812s2

Ada sebuah pesantren yang memberi gratis 800 siswa didiknya dan mampu memberi peluang kepada siswa yang tidak mampu untuk mencicipi dunia pendidikan, yaitu Pesantren Taruna Alquran.
Pesantren Taruna Alquran, berawal dari Pondok Pesantren Asy-Syifa’ di Ganjuran, Bantul (1993), kemudian berkembang dengan Pondok Pesantren Taruna Al Quran di Lempongsari, Ngaglik, Sleman (1998), dan kini tersebar di beberapa lokasi lain. Di Yogya,PP Taruna Al-Qur’an II Bantul, PP Al-Hadi (Turi, Sleman), dan PP Taruna Alqur. Pendidikan utama di Pasantren Taruna Alquran adalah Tahfidz Quran. Tidak semua santri berbakat jadi ulama, santri yang kemampuan keilmuannya sulit dikembangkan diarahkan untuk usaha: dibukakan toko, dibelikan truk, atau usaha yang lain. Kelak mereka diharapkan menjadi satu tim dakwah, mendukung temannya yang ahli ilmu (dalam berdakwah).

Yang paling menonjol dari Pesantren Taruna Alquran, semua santri tidak dipungut biaya, baik untuk tinggal, makan, maupun pendidikannya selama di pesantren. Jumlah santri seluruhnya 650 orang, laki-laki dan perempuan. Santri berasal dari berbagai daerah, di antaranya Timor Timur, NTT, NTB, Aceh, dll. Di antara para santri yang sudah lulus, empat orang melanjutkan kuliah di Universitas Islam Madinah (1 orang di antaranya sudah lulus) dan enam orang di Universitas Al-Azhar, Mesir. Selain itu, banyak juga dari kalangan santri yang sudah merasakan haji dan umrah.

Selain itu Pesantren Taruna Alquran juga punya stasiun radio FM, Taruna FM, 96.7, di Yogya, yang isinya sepenuhnya pelajaran agama. Siarannya dari 03.30-23.00: pelajaran tafsir, hadis, sirah nabi, sirah sahabat, fikih wanita, dll. Selingannya murottal. Enggak ada musik, enggak ada iklan. Tentu ini cost centre. Di Padang juga ada, sama, 96.7 FM, bekerja sama dengan H Abubakar, mantan Dirut Semen Padang–yang dilengserkan pemerintah karena kasus spin off Semen Padang. Selain radio, juga dibuat pesantren tahfidz di sana.

Ada juga klinik pengobatan gratis, sepenuhnya gratis: jasa dokter dan obat-obatan, di Jl Palagan, Monjali. Tetapi juga bekerja sama dengan Pimpinan Muhammadiyah Daerah Sleman mendirikan PKU Muhammadiyah Sleman, yang baru didirikan setahun ini. Untuk menyebarkan gagasan keisalaman Pesantren Taruna Alquran juga menerbitkan majalah bulanan, SWARA QURAN

Di Yogya, Pesantren Taruna Alquran mendirikan BMT, modal awalnya Rp100 juta. Dalam setahun ini, telah berkembang menjadi 6 BMT. Tujuannya untuk membantu ekonomi di tingkat bawah. Bayangkan, ada nasabahnya yang bisa bertahan usaha, sambil membiayai anaknya, dengan pinjaman Rp50 ribu. BMT, yang telah dirasakan manfaatnya (dalam menggerakkan ekonomi, mencari keuntungan, dan mendidik santri cepat mengenal dunia usaha yang bermacam-macam) kini akan dikembangkan secara luas (ekspansi). Setiap bulan ada rekrutmen karyawan BMT, 30-50 orang.

Sosok Umar Budihargo

Kemajuan Pesantren Taruna Alquran, tidak lepas dari kiprah Umar Budihargo. Ia lulusan Pondok Modern Gontor Ponorogo, Universitas Islam Madinah Jurusan Sastra Arab (1985), dan melanjutkan studi S-2 di Universitas Islamabad Pakistan (1987) Jurusan Sastra Arab. Putra kedelapan dari Dr Hardjo Djojodarmo, seorang dokter ahli kandungan di Yogya, lahir di Yogyakarta, 16 Maret 1962.

Ustaz Umar, demikian ia disapa, hidup sederhana. Pakaian selalu baju putih polos, tidak pernah pakai yang lain. Rumah juga sederhana: tembok cuma diplester dan dicat, lantai ubin abu, kursi tamu dari bambu. Kalau ada tamu, selalu dia yang menyuguhkan sendiri suguhan untuk tamu, termasuk kalau makan berat. “Kalau diberi kelebihan rezeki, kita ini cuma pengin minterke (menjadikan pandai) adik-adik. Kalau ada kendaraan bagus, ya itu cuma supaya lancar urusan kita,” selorohnya suatu ketika. Mobilnya ya cuma Panther, jauh dari mewah. Kalau di Jakarta tidak tidur di hotel, tetapi tidur bersama para santrinya di Serpong, di sebuah pondok rumah panggung, atau di musala pondok, di atas karpet atau tikar.

Sikap mandiri sudah ditanamkan sejak kecil. Meskipun orang tuanya dokter, keluarganya berkecukupan, Ust Umar memilih jalannya sendiri: merintis pesantren dengan modal Rp100 rb di tangan (yang dipakainya untuk usaha jualan minyak tanah). Tinggal di rumah bilik kecil, yang dibagi dua karena separuh untuk 12 orang santri pertamanya dan separuh untuk keluarganya dengan tiga orang putra, ke mana-mana naik sepeda onthel (termasuk mboncengin istri dan tiga orang anaknya), tetapi toh dari awal memang santrinya tidak dipungut biaya. “Bapak ya tahu kondisi kami begitu, tapi ya enggak pernah nawarin bantuan,” tuturnya suatu ketika, sambil mensyukuri bahwa orang tuanya telah mengajarnya kemandirian hidup. “Kalau dulu banyak dibantu orang tua, mungkin sekarang kita enggak bisa cerita-cerita lagi kepada adik-adik santri,” tuturnya.

Ust Umar biasa memanggil santrinya “ustaz” juga. “Kalau bukan kita yang memulai menghormati mereka, siapa lagi?” ujarnya sambil menebarkan senyum. Para bapak, ibu, jemaah haji yang sudah sepuh-sepuh pun akhirnya memanggil santri-santri kecil Pesantren Taruna Alquran dengan sebutan sama


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: